Kembali ke Portal Berita
E-Commerce

Di Balik Layar ZALORA: Bagaimana Marketplace Fashion Menghasilkan Uang dan Membangun Kepercayaan

MUHAMMAD FADHIL MULYA PUTRA
MUHAMMAD FADHIL MULYA PUTRAKreator Mahasiswa
15 Oktober 2026
3 min read
57 views
Di Balik Layar ZALORA: Bagaimana Marketplace Fashion Menghasilkan Uang dan Membangun Kepercayaan

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Salah satu platform yang memanfaatkan perkembangan tersebut adalah Zalora, yaitu marketplace yang berfokus pada produk fashion dan gaya hidup. ZALORA memberikan kemudahan bagi konsumen untuk membeli berbagai produk secara online tanpa harus datang langsung ke toko. Artikel ini membahas jenis marketplace, model bisnis, sumber pendapatan, dan cara ZALORA membangun kepercayaan pembeli maupun penjual.

Mengenal Zalora di tengah maraknya persaingan fashion online

Zalora dikenal sebagai salah satu pemain besar fashion online. Ia bersaing dengan marketplace serba ada seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop, serta dengan situs resmi milik brand sendiri. Persaingan ini menarik karena fashion punya karakter seperti produknya sangat bervariasi, selera konsumen cepat berubah, dan ukuran atau bahan sering menimbulkan keraguan saat membeli tanpa mencoba.

Zalora: Sempit Tetapi Dalam

Zalora termasuk marketplace vertikal karena hanya melayani satu pasar besar, yaitu fashion dan lifestyle. Isinya pakaian, sepatu, tas, aksesori, busana olahraga, hingga produk kecantikan. Berbeda dengan marketplace horizontal seperti Shopee yang menjual hampir semua kategori, Zalora memilih sempit tetapi dalam. Pengalaman belanjanya lebih terarah, citra brand lebih terjaga, dan kurasi produk lebih mudah dilakukan. Risikonya, pasarnya lebih terbatas dan lawannya adalah platform raksasa dengan jumlah pengguna sangat besar.

Zalora: klasifikasinya dalam bisnis

Transaksi utama di ZALORA adalah B2C (Business to Consumer) brand atau ZALORA menjual ke konsumen individu. Ini berbeda dengan C2C, yaitu konsumen menjual ke konsumen seperti di lapak barang bekas, karena penjual di ZALORA umumnya adalah brand dan mitra bisnis.

Di sisi lain, ada hubungan B2B (Business to Business) antara ZALORA dan brand mitra. Brand membayar komisi dan layanan promosi, serta memanfaatkan dukungan operasional platform. Jadi konsumen melihat toko online, sedangkan di baliknya ZALORA berperan sebagai mitra dagang bagi brand.

Model ini bisa berbentuk campuran. Sebagian produk dijual dan dikelola langsung oleh platform, sebagian lagi dijual melalui brand mitra. Karena itu pembagian peran dan alur dananya bisa berbeda untuk tiap jenis kerja sama.

Zalora: bagaimana mereka bertahan dan mendapatkan keuntungan

Dalam menjalankan bisnis tentu harus mendapat keuntungan supaya bisa terus bertahan. Sebagai perusahaan B2C dengan kemitraan B2B, Zalora mendapatkan keuntungan dari dua sumber utama.

Margin dan komisi penjualan. Untuk produk yang dijual langsung, platform mengambil selisih antara harga beli dan harga jual. Untuk produk milik mitra, platform memperoleh komisi dari tiap penjualan. Besarnya mengikuti kontrak dan tidak selalu dipublikasikan.

Selain itu, iklan dan promosi juga berpengaruh pada pendapatan zalora. Brand ingin produknya terlihat di tengah ribuan pilihan. Platform bisa menawarkan ruang promosi berbayar, misalnya banner, penempatan di halaman utama, atau kampanye musiman seperti diskon tanggal kembar dan Harbolnas.

Diluar dua sumber pendapatan utama, ada potensi sumber lain seperti layanan logistik untuk mitra, produk merek sendiri, atau pemanfaatan data belanja untuk membuat penawaran lebih tepat sasaran. Kemungkinan-kemungkinan ini sifatnya analisis, bukan data pasti dari perusahaan.

Membangun kepercayaan dua arah

Marketplace adalah platform dua sisi, sehingga kepercayaan harus dibangun untuk pembeli dan penjual sekaligus.

Kepercayaan pembeli muncul dari informasi merek dan produk yang jelas, proses pembayaran yang aman disertai konfirmasi pesanan, serta kebijakan retur dan layanan pelanggan yang membantu saat ada kendala.

Kepercayaan penjual muncul dari aturan yang jelas sejak awal mengenai komisi, jadwal pencairan dana, dan kebijakan retur. Pembayaran juga terjamin karena dana dikelola platform. Selain itu, fokus pada fashion dan kurasi produk menjaga citra brand agar tidak tercampur barang tiruan.

Dengan begitu, ZALORA berperan sebagai pihak ketiga yang menjaga keamanan transaksi kedua belah pihak.

Kesimpulan

ZALORA merupakan contoh penerapan bisnis digital dalam industri fashion. Dengan memanfaatkan teknologi dan strategi pemasaran online, ZALORA memberikan pengalaman belanja yang praktis bagi konsumen. Keberhasilan marketplace ini juga menunjukkan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi dalam menghadapi persaingan bisnis digital.

Bagikan Reaksi Anda terhadap Berita Ini

Bagikan Artikel Ini

Tugas Kelompok: Kelompok 4

Diskusi Komunitas (0)

Tertarik ikut berdiskusi? Login di sini menggunakan akun Kreator / Editor Anda.
Belum ada komentar diskusi. Jadilah yang pertama memberikan opini cerdas Anda!